Jumat, 06 Mei 2011

LOTEK PAK SOMAD

Lotek Pak Somad memang spesial. Diracik dalam semangat, sabar, dan keinginan untuk memperbaiki diri, lotek dari warung kecil di pinggir Sungai Cikapundung ini tentu sangat menyehatkan jiwa dan pikiran. Dengan Rp. 5.000 kita akan mendapatkan santapan sebuah cerita tentang usaha untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

***

"Dik Erwin, ini warung Bapak. Kalau malam jualan ayam, pagi nasi kuning, dan siangnya Bapak sendiri yang jualan lotek", demikian sapa beliau ketika saya menghampirinya di sisi jembatan Cikapundung, Pelesiran. Satu jam berikutnya kami berbincang dan Pak Somad bercerita tentang dirinya.

Abdul Somad, nama beliau. Usianya sudah menginjak 60 tahun. "Bapak dulu ikut SR (Sekolah Rakyat)", cerita beliau. Isterinya meninggal tahun 2006, namun kemudian beliau menikah lagi dan hingga kini dikaruniai beberapa orang putra/i dari isteri-isterinya, dan cucu.

"Bapak mah dulu jahat, tukang tipu", ungkapnya. Beliau bercerita tentang masa lalunya yang kelam termasuk ketika masih menjadi supir angkot dan pedagang yang tidak adil. Hingga akibatnya beliau kehilangan harta dan tempat tinggal. Dalam cerita lain yang saya dengar dari teman satu kos, beliau juga pernah menjadi preman - kini mantan tentunya. Masa-masa kelam itu beliau jalani hingga tahun 90-an dimana ia memutuskan untuk berhenti. Ketika saya tanya apa yang membuat beliau berhenti, Pak Somad hanya menjawab "Ya, Bapak ingin berhenti saja".

Perjalanan hidup kemudian membawa beliau kepada masjid. Suami adik beliau, Pak Maman, mengajak untuk belajar mengaji pada tahun 2005 di Masjid Al Ikhlash. Sebenarnya masjid itu agak jauh dari rumahnya dibanding dengan masjid sekitar yang lebih dekat. Apalagi harus menempuh jalan menanjak sejauh 100 m sepanjang Jalan Pelesiran. Beliau bercerita, "Kenapa Bapak mau ke Masjid Al Ikhlash karena Bapak ingin belajar ngaji...bada maghrib kami mengaji 3 ayat dan ketika bulan puasa bada subuh. Bacaan Bapak memang belum bagus tapi Bapak mau belajar".

Sekali waktu saya pernah juga ikut belajar mengaji di masjid yang terletak di Gang Abah Winata itu. Dipimpin oleh Pak Haji Tjutju, belasan Bapak-Bapak paruh baya dan berusia lanjut belajar mengaji disana, dengan lirih dan dalam bacaan yang terbata-bata, masing-masing membaca lanjutan pelajaran dari hari sebelumnya. Dari kegiatan disana kita bisa lihat tentang apa yang penting dari (proses) belajar, bahkan dalam usia yang tidak muda lagi. Kemudian, kedekatan persaudaraan juga sangat kuat di masjid tersebut. Ketika suatu waktu Pak Somad tidak terlihat selama beberapa hari dan terdengar kabar beliau sedang sakit, para jamaah beramai-ramai mengunjungi. Demikian juga ketika jamaah lain sedang sakit.

"Bapak ingin terus belajar...namun yang Bapak belum berani adalah berkhotbah", cerita beliau. Memang setiap hari Pak Somad hampir selalu mengumandangkan adzan untuk sholat maghrib dan isya dengan suaranya yang khas, dan terkadang beliau juga memimpin sholat sebagai imam. Beliau juga bercerita tentang antusiasme beliau dalam mencari ilmu, tentang diskusi beliau dengan Pak Haji Tjutju, tentang pemahaman beliau tentang rukun islam, tentang syahadat, dan lain-lain. Demikian, bahwa beliau terus berupaya memperdalam pengetahuan beliau dan mencoba memikirkan tentang perbaikan diri. Dan setelah sekira satu jam berlalu, dari sisi jembatan dimana orang dan kendaraan lalu lalang dari dan ke Cihampelas, beliau undur pamit karena hendak membantu isteri.

Keesokan harinya, saya penasaran dengan cerita Pak Somad dan ingin mencicipi lotek beliau. Saya datang dan bertemu beliau. Saya beli dan nikmati lotek ala Pak Somad siang itu, dan ternyata maknyus.... Lotek beliau terasa nikmat, apalagi dengan keyakinan bahwa itu dibuat dari seseorang yang punya semangat perbaikan diri dalam hidup ini. Porsinya pun tidak terlalu banyak ataupun terlalu sedikit, dan dengan sensasi pedas yang pas. Plus, sayuran hijau yang baik bagi seseorang yang sedang belajar mencintai bumi.

***

Demikian kisah tentang Pak Somad, tentang perjalanan hidup beliau, dan yang pasti tentang lotek racikannya. Hidup barangkali tak akan seindah sebagaimana harapan, terkadang jua kealpaan mewarnai perjalanannya, namun dari seorang pria lepas paruh baya tersebut kita bisa belajar sesuatu. Bahwa hidup senantiasa adalah proses - untuk belajar dan memperbaiki diri. Untuk terus bertanya pada diri, apa yang kurang dan apa yang mesti dilakukan. Seperti juga Pak Somad, kita mesti terus berproses - kepada yang baik. Demikian, dan karena santapan lotek kini telah hampir habis, semoga cerita ini bisa menjadi sebuah pelajaran, dan seperti kata Pak Somad, "Semoga loteknya sesuai selera".

Bandung, 2 Oktober 2009 - Lestari Batikku, Bangkit Negeriku

Minggu, 12 Desember 2010

Diskursus Bencana di Ruang Media, Regulasi, dan Pendidikan

Earthquakes do not kill people – buildings do: gempa bumi tidak membunuh siapapun – tetapi bangunan” (Cannon, 2010)

Akhir-akhir ini kita menyaksikan berbagai bencana di negeri ini – termasuk bencana: banjir di Wasior, tsunami di Mentawai, dan erupsi Merapi; lalu bagaimana ruang media, regulasi, dan pendidikan membentuk pemahaman kita terhadap bencana? Terutama dalam penggunaan frase ‘bencana alam’. Apakah telah membantu kita memahami permasalahan atau sebaliknya? Penulis mencoba mengupasnya satu per satu.

MEDIA

Media massa telah menjadi sumber pengetahuan populer saat ini. Keterbatasan akses terhadap sumber akademik, dan peran masif media menjadikannya sebagai sumber informasi utama bagi khalayak umum. Resiko yang dihadapi adalah kesalahan penggunaan istilah di media akan dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat.

Beberapa frase berikut penulis kutip dari beberapa koran nasional – cetak miring dari penulis: “Tak terbilang kerugian harta benda akibat bencana alam.... Pemahaman inilah yang bisa menciptakan mukjizat di tengah teror bencana alam” (Witin di Kolom Pendapat Koran Tempo, Edisi Senin, 8 November 2010), “Manakala dada dan perutnya (Gunung Merapi) sesak oleh dorongan jutaan meter kubik larva, ia ‘murka’ dan memuntahkan, menyemburkan materi panas dan beracun” (Tajuk Rencana di Kompas Edisi Kamis, 28 Oktober 2010), dan bahkan jurnalis senior Kompas Ninok Leksono pun menyebut puisi Adam Smith yang menyatakan gempa bumi sebagai ‘monster dari kedalaman’ adalah hal yang “menyeramkan tapi pas tentang gempa bumi” (Kompas Edisi Jumat, 29 Oktober 2010).

Setiap hari kita hidup dalam bahaya. Namun, penyebaran persepsi bahwa alam memiliki motif, kehendak, dan keinginan (teror, murka, monster) mengaburkan kondisi sebenarnya. Apa yang dimaksud ‘bencana alam’? Apakah bencana yang diakibatkan oleh (bahaya) alam dan terjadi secara alami? Apakah alam bisa mengakibatkan bencana? Alam senantiasa dinamis dan terus berubah. Namun bencana tidak akan terjadi diluar ruang kehidupan dan interaksi manusia dengan alam. Jadi, bencana tidak terjadi secara alamiah. Bahaya alam (natural hazard) terjadi sebagai proses alami dan tidak terelakkan, namun tidak dengan bencana (disaster).

REGULASI

Undang-Undang Nomor 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana mendefinisikan: (1). “Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat yang disebabkan, baik oleh faktor alam dan/atau faktor nonalam maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis”; dan (2). “Ancaman bencana adalah suatu kejadian atau peristiwa yang bisa menimbulkan bencana”.

Sebagai dasar kebijakan mengenai bencana, penulis ingin terlebih dahulu menunjukkan kebingungan mengenai definisi tersebut – cetak miring dari penulis: pertama, mengapa bencana didefinisikan sebagai peristiwa yang mengancam dan (sekaligus) mengganggu? Mengancam, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Keempat (2008) adalah “diperkirakan akan menimpa”, atau sesuatu yang belum dan akan terjadi. Sedangkan ‘mengganggu’ adalah sesuatu yang sudah terjadi. Kedua, lalu apa perbedaan ‘mengancam’ sebagai definisi bencana dengan ‘bisa menimbulkan’ sebagai definisi ancaman bencana?

Lebih lanjut, di dalam penjelasan atas undang-undang tersebut dipaparkan bahwa – cetak miring dari penulis: “Potensi penyebab bencana di wilayah negara kesatuan Indonesia dapat dikelompokkan dalam 3 (tiga) jenis bencana, yaitu bencana alam, bencana non alam, dan bencana sosial". Apa yang rancu dari penjelasan tersebut? Dalam pemahaman penulis, ‘potensi penyebab bencana’ sama dengan ‘bahaya’ atau ‘ancaman’, dan tidak sama dengan ‘bencana’. Keduanya berbeda, bahaya adalah kejadian yang berpotensi menyebabkan kerugian, sedangkan bencana adalah gangguan terhadap fungsi kehidupan komunitas atau masyarakat. Lalu mengapa bahaya dapat dikelompokkan ke dalam tiga (3) bencana? UNISDR (2004) mengklasifikasikan bahaya menjadi: bahaya alam (hidrometeorologi, geologi, dan biologi), bahaya teknologi, dan bahaya lingkungan; tetapi tidak ada klasifikasi mengenai bencana menjadi ‘bencana alam’ atau bahkan definisi mengenai ‘bencana alam’.

PENDIDIKAN

“Semenjak diciptakan, permukaan bumi mengalami perubahan terus-menerus. Sebagian besar perubahan ini terjadi secara alamiah. Perubahan alamiah berlangsung perlahan-lahan selama jutaan tahun. Tapi, ada beberapa peristiwa alam yang mengubah permukaan bumi dengan cepat. Peristiwa alam ini menjadi bencana bagi umat manusia. Ada bencana alam yang terjadi secara tanpa sengaja. Ada juga bencana alam yang diakibatkan oleh kegiatan manusia” (Hikmati et al, 2010).

Kutipan tersebut penulis salin dari buku pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam bagi siswa SD/MI kelas 5 – cetak miring dari penulis. Penulis sangat terkesan bahwa pendidikan telah berinisiasi mengajarkan kebencanaan sejak usia dini; namun pengantar di subbab Perubahan Alam tersebut dapat menyebabkan kebingungan. Pertama, penulis menyatakan “Peristiwa alam menjadi bencana bagi umat manusia”. Pernyataan tersebut tidak tepat; tidak semua peristiwa alam akan secara langsung menjadi bencana bagi manusia. Peristiwa alam adalah bahaya, dan terutama dapat dikurangi resikonya. Kedua, penulis menyatakan “Ada bencana alam yang terjadi secara tanpa sengaja”. Apakah alam memiliki motif? Jika suatu bencana (alam) dapat terjadi secara tanpa sengaja, berarti ada bencana (alam) lain yang terjadi secara sengaja. Ketiga, penulis menyatakan “Ada juga bencana alam yang diakibatkan oleh kegiatan manusia”. Apa definisi ‘bencana alam’? Apakah bencana yang disebabkan oleh alam? Lalu mengapa penulis menyebutkan “bencana alam diakibatkan oleh kegiatan manusia”? Apakah yang dimaksud bencana oleh manusia? Apakah penulisan kalimat atau penggunaan frase ‘bencana alam’ yang dinilai kurang tepat?

Penulis hanya mengambil contoh dari salah satu buku pelajaran – atau mungkin belum menemukan dari buku lainnya, namun yang patut diperhatikan bahwa karena pendidikan adalah upaya menanamkan nilai-nilai luhur perikehidupan manusia, hendaknya berhati-hati dalam menyampaikan dan cara menyampaikan pesan. Penulis yakin bahwa penulis buku tersebut ingin siswa paham, peduli, dan aktif dalam mengurangi resiko bencana; namun penggunaan istilah dan penyampaian yang tidak tepat dapat menyebabkan kebingungan.

KESIMPULAN

Dari tiga (3) ruang publik: media, regulasi, dan pendidikan tersebut, kita telah melihat bahwa pemahaman, penggunaan, dan terutama penyebarluasan pengetahuan mengenai kebencanaan telah mengaburkan pemahaman. Frase ‘bencana alam’ selama ini dipahami bahwa bencana yang disebabkan oleh alam. Hal ini tidak tepat; karena alam tidak pernah menyebabkan bencana. Interaksi bahaya (alam) dengan masyarakat rentan yang menyebabkan terjadinya bencana (Cannon, 2008); sebagai konsekuensi terhadap lingkungan hidup, desain dan lokasi infrastruktur, dan konsentrasi penduduk (Etkin et al, 2003) yang telah kita wujudkan. Jadi, penggunaan frase ‘bencana alam’ tidak tepat untuk dipergunakan dan perlu dialihkan menjadi ‘bencana’ sebagai definisi dari gangguan terhadap kehidupan dan penghidupan masyarakat. Sedangkan bahaya sebagai definisi dari sesuatu yang dapat menyebabkan kerugian; dan dapat diklasifikasi salah satunya sebagai bahaya alam.

Terakhir, penulis tidak ingin mengkambinghitamkan manusia dan alam atas kejadian bencana, tapi ingin mempertegas bahwa bencana tidak sepenuhnya karena alam. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Wisner et al (2003), bahwa: "disasters happen is that it is not only natural events that cause them. They are also the product of social, political and economic environments (as distinct from the natural environment) – bencana terjadi tidak hanya disebabkan oleh kejadian alam. Namun juga sebagai produk dari ruang sosial, politis, dan ekonomi (diluar ruang alam)". Dan bahwa, sesungguhnya, kita (terutama Pemerintah dan pemerintah daerah sebagai penanggung jawab dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana) mampu untuk mengurangi dampaknya melalui pengurangan resiko bencana.

Selasa, 22 April 2008

Kesempatan adalah Jalan Dedikasi

Kesempatan adalah Jalan Dedikasi. Demikian saya memaknai hidup. Hidup adalah rangkaian kesempatan yang ada, dan adalah pilihan kita untuk memilih apa tindakan yang akan kita lakukan. Dan saya memilih untuk mendedikasikan waktu hidup saya pada khasanah kebaikan.

Istikamah. Inilah kata terberat sepanjang hidup. Menjadi tahu itu mudah, akan tetapi menjadi sadar dan bergeraklah yang sulit.

Bandung, 23 April 2008